Rabu, 15 Desember 2010

FILUSUFI SIMBOL KELUHURAN BUDI MASYARAKAT MADURA

Pesatnya perkembangan Ilmu pengetahuan dan teknologi  yang terjadi saat ini membawa dampak perubahan yang luar biasa terhadap semua sendi kehidupan manusia.adanya teknologi informasi yang sangat canggih seolah kita hidup dalam satu rumah besar tanpa sekat dan pembatas.Hampir tak dapat ditemukan  perbedaan pola hidup antara masyrakat pedesaan dengan orang perkotaan.
Keseragaman pola hidup diera globalisasi seolah telah menghapus keberagaman budaya , padahal keberagaman budaya adalah modal utama penyangga keseragaman.Tanpa terasa budaya daerah yang merupakan cirikhas dari suatu daerah yang perlu dilestarikan sudah mulai terkikis dan memprihatinkan.Kebudayan daerah merupakan suatu proses kristalisasi  yang berlangsung lama tentang sesuatu yang terjadi di daerah tersebut sesuai dengan karakteristiknya.
Kebudayaan adalah cara hidup masyarakat yang tinggal dalam suatu daerah berdasarkan cara hidup yang ditiru dari pendahulunya tentang menemukan solusi hidup yang indah  sesuai kemanusiaan berdasarkan interaksi dengan lingkungannya.Keterbatasan teknologi  zaman dahulu menyebabkan kebudayaan suatau daerah sangat berbeda dengan budaya daerah lain.Perbedaan itu merupakan kekayaan cara pandang terhadap memahami suatu permasalahan untuk menemukan solusi terbaik guna mencapai satu tujuan sesuai kemampuan dan kapasitas masing-masing.Ini merupakan kekayaan yang dimiliki bangsa kita dan merupakan modal dasar suatu bangsa yang perlu dilestarikan,karena pada umumnya budaya daerah berorentasi pada keluhurun budi yang menjunjung tiggi nilai-nilai kemanusiaan.
Zaman begitu cepat bergerak menyeret semua yang dilalui,masyarakat kadang tak sempat untuk berfikir tentang dirinya, , ada dimana,kapan,dengan siapa, seperti apa dirinya,yang ada dalam benaknya kita harus berjalan sesuai zaman,supaya tidak ketinggalan zaman.Kadang manusia melupakan dirinya bahwa dia adalah makhluk yang paling mulia di muka bumi.
Dampak globalisasi sungguh sangat memprihatinkan bagi yang melupakan eksistensinya sebagai manusia,lewat film-film porno yang yang begitu mudahnya diperoleh lewat HP atau internet,banyak yang sudah meninggalkan kemanusiaannya dalam berinteraksi dengan teman hidupnya dengan cara meniru adegan-adegan didalam film-film porno yang berasal dari barat.
Pasangan suami isteri zaman dahulu kalau berada dalam kamar berdua,lampunya dimatikan karena malu auratnya takut terlihat,namun sekarang jangankan didepan suami yang sudah jelas halal,dimuka umumpun auratnya dipertontonkan dengan bangga. Dizaman globalisasi kondisi seperti itu merupakan  suatu hal yang biasa  dan sudah terjadi dihampir semua suku bangsa.
Globalisasi seolah sudah mencuci otak tentang sesuatu yang bersifat kedaerahan dan diganti dengan sesuatu yang bersifat modern,dan ini didukung dengan fasilitas teknologi  yang semakin canggih.Budaya daerah semakin sempit ruang geraknya walaupun hidup di tanahnya sendiri.Padahal kebudayaan daerah sangat menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kemanusian .
Pada umumnya kemajuan teknologi bertujuan untuk meningkatkan peradaban bangsa manusia.Namun dampak kemajuan  teknologi yang begitu cepat, dengan mengedepankan aspek materi  belaka tanpa mempertimbangkan keluhuran budi akan berakibat pada lunturnya nilai-nilai  kemanusiaan.
Dunia akan berantakan apabila nilai-nilai kemanusiaan telah mulai luntur.Oleh karena itu orang-orang zaman dahulu selalu berpegang teguh pada nilai luhur kemanusiaan dalam kehidupan bermasyarakat sehingga tercipta kehidupan yang sejahtera lahir batin.Hampir semua suku bangsa punya cara tersendiri untuk mengabadikan nilai-nilai luhur kemanusiaannya supaya tetap diamalkan oleh generasi berikutnya.
Banyak cara yang digunakan supaya nilai luhur  yang berupa pesan moral itu diamalkan sesuai dengan situasi dan kondisi disegala zaman.Nenek moyang orang Madura yang arif dan bijaksana mengungkapkan falsafah hidupnya berdasarkan ajaran agama dan pesan moral tentang keluhuran budi melalui simbol-simbol benda ataupun ungkapan.Simbol-simbol filusufi tentang keluhuran budi itu meliputi semua aspek kehidupan.Mulai dari berpakaian,kegiatan keagamaan, interaksi dengan sesama manusia,berhubungan dengan alam sekitar,adat istiadat serta yang lainnya.
Dizaman globalisasi seperti sekarang orang yang masih berpegang pada budaya daerah yang berdasarkan keluhuran budi sering dianggap aneh ataupun kadang disebut ketinggalan zaman.Karena orang yang masih kokoh berpegang pada budaya daerahnya secara materi tidak bisa memberikan nilai tambah.Pemakaian symbol-simbol tentang keluhuran budi dalam kegiatan sehari-hari sering pula dicibir karena dianggap kolot dan menghambat perkembangan.
Tidak mengherankan bila generasi mudanya yang kurang memahami tentang nilai luhur kemanusiaan mulai meninggalkan pemakaian symbol-simbol tersebut dan beralih pada budaya baru yang merupakan dampak dari kemajuan zaman.Peralihan budaya daerah yang penuh dengan nilai keluhuran budi ke budaya baru,walaupun dari segi materi menguntungkan ataupun menaikkan harga diri tapi tanpa memprtimbangkan baik buruknya akan berakibat kurang baik.
 Cara orang Madura berpakaian sering dianggap kolot atau ketinggalan zaman,biasanya hal tersebut diungkapkan oleh orang yang kurang memahami tentang Madura yang sebenarnya.Masyarakat Madura tidak sembarangan memakai pakaian atau melakukan suatu kegiatan tanpa mempertimbangkan nilai luhur kemanusiaan.Misalnya dalam berpakaian orang Madura tidak akan lepas dari sarong dan songkok.
                Saat ini para remaja sudah jarang yang memakai sarung dalam kegiatan sehari-hari dan berubah pada pakaian baru berupa celana.Sekilas hal tersebut merupakan suatu yang wajar bahkan lebih efektif dan lebih bebas bergerak baik laki-laki ataupun perempuan.Sarung dianggap tidak rapi sehingga hanya dipakai oleh orang-orang pedesaan yang kurang peduli terhadap keindahan.Makna sarung sudah tidak dipedulikan walaupun mengandung nilai yang demikian mendalam tentang keluhuran budi.Bukan hanya sarung hampir semua aspek kehidupa orang Madura mengandung filusufi  tentang keluhuran budi.
Sarong merupakan salah satu bagian kecil dari symbol-simbol filusufi tentang keluhuran budi.Sarung adalah pakaian sehari- hari orang Madura.Mulai dari acara resmi seperti kondangan,shalat,ataupun acara lainnya seperti saat santai sampai saat bekerja, orang Madura tidak bisa dipisahkan dari sarung.Sehingga sarung hampir identik dengan  orang Madura.
Sarung adalah salah satu pakaian adat yang merupakan kebanggaan  tersendiri bagi pemakainya.Hal ini disebabkan karena sarung  merupakan symbol filusufi tentang keluhuran budi orang Madura. Diharapkan orang yang memakai sarung mampu memahami dan mengapresiasi kemudian menjabarkan dalam kegiatan sehari-hari tentang makna yang tersirat dari filusufi kata “Sarong” tersebut.
                Dalam bahasa Madura sarong berasal dari ringkasan kata,SA dan  RONG.Sa berasal dari kata Esa  sedangkan Rong berasal dari kata Kerrong [rindu atau cinta].Jadi  kata Sarong mempunyai arti “Ka Se Esa kodu Kerrong”.Dengan memakai sarong diharapkan orang Madura harus selalu merasa rindu kepada Yang Esa,oleh karena itu  dalam kegiatan apapun orang Madura akan tetap bersarong.Tidak mengherankan apabila dipesantren – pesantren salaf semua santri diwajibkan tetap bersarong.
Apabila kita melihat lebih jauh tentang sarung ternyata sarung itu mengikat atau pemersatu dua komponen yaitu kaki kanan dan kaki kiri, yang menyangga satu system tubuh.Dengan batasan itu diharapkan kedua komponen dalam menyangga kehidupan ini berjalan sinergi dan seirama dalam bingkai Kerinduan kepada Yang Esa.Misalnya suami berjalan kedepan sementara isteri dibelakang,bagaikan kaki kanan kedepan kaki kiri dibelakang harus tetap dalam satu bingkai.Tidak boleh kaki kanan kedepan kaki kiri dibelakang kemudian ada jarak ditengah atau bolong seperti orang memakai celana,seolah-olah suami isteri itu tidak ada pertalian atau hubungan,demikian juga dengan  komponen-komponen lain seperti saudara dengan saudara,anak dengan orang tua,sahabat dengan sahabat harus tetap dalam satu bingkai Cinta Kepada Yang Esa.
                Kecintaan kepada yang Esa merupakan hal yang sangat mendasar,seandainya setiap orang Madura memahami kemudian mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari ,maka alangkah indahnya hidup ini karena penghuninya hidup penuh cinta,cinta kepada Penciptanya,cinta kepada sesamanya dan cinta kepada lingkungannya.Tak mungkin ada rasa dendam,benci,rakus,pembalakan liar,pengeboman terumbu karang atau perbuatan yang menyebabkan rusaknya lingkungan.Sayang zaman begitu cepat menyeret orang Madura tanpa sempat menoleh pada budayanya walaupun dipenuhi dengan keluhuran budi.
                Pada era globalisasi orang memakai sarung dianggap tidak rapi atau bahkan ada yang menganggap kolot.Apabila  ada orang yang mau menghadap seorang pejabat dengan memakai sarung maka orang tersebut akan mengalami kesulitan bahkan tidak diperbolehkan menghadap karena dianggap tidak rapi atau kurang sopan.Apalagi seorang Abdi Negara pada waktu jam dinas memakai sarung dia akan kena teguran ataupun sanksi dianggap tidak disiplin bahkan bisa dianggap gila.Dalam pakaian dinas seseorang akan dianggap disiplin apabila seseorang memakai celana bukan sarung.
                Apakah karena celana berasal dari barat dan lebih banyak pemakainya, sehingga kita orang Madura juga harus ikut ala orang Barat  yang telah lama menjajah kita, dengan meninggalkan budaya sendiri walaupun mempunyai nilai dan tujuan yang luhur?.Ataukah karena celana itu lebih praktis dan lebih lelusa bergerak  dari pada sarung sehingga kaum hawapun ikut-ikutan pakai celana sehingga nampak jelas bentuk tubuhnya?.
Kadang-kadang pada acara resepsi yang diadakan di gedung-gedung pertemuan resmi apabila ada salah satu undangan yang hadir memakai sarung akan dianggap tidak tahu perkembangan atau ketinggalan zaman dan bahkan dianggap orang yang baru selesai dikhitan,sehingga mendapat sorotan dari undangan yang lain. Namun tatkala ada seorang perempuan dengan baju yang ketat dan memakai celana tak seorangpun yang berkomentar, karena dianggap modern dan wajar, walaupun tidak sesuai norma agama.        Sungguh suatu kenyataan yang sangat ironi,manakalasuatu budaya ditanahnya sendiri dengan tujuan mulia dan luhur, tidak mendapatkan tempat sesuai porsinya dibandingkan dengan budaya asing yang katanya orang Madura,”calana” berasal dari kata “caladan  parana”.
                Yang jelas setiap orang Madura tahu apa arti kata “cala”,namun kita tetap memilih dan tidak perlu peduli tentang suatu arti dari benda-benda tersebut asal kita bisa berinteraksi dengan nyaman .Atau kita memang tidak pernah tahu karena memang tidak pernah diberi tahu tentang keluhuran budi karena hanya dianggap  akan menghambat karier.
Selain sarong orang Madura tidak akan lepas dari songkok.Sebenarnya songkok atau peci  adalah symbol nasional,sehingga dalam forum internasional hanya orang Indonesia yang memakai peci.Namun bagi orang Madura songkok mempunyai arti tersendiri.
Songko’ berasal dari kata song dan ko’, artinya se kosong epanongko’.Pesan moral yang ingin disampaikan dari ungkapan songko’ adalah “kase kosong kodu tako’”.Kosong, adalah sesuatu yang tak bisa dilihat atau diraba, tapi mutlak adanya yaitu Tuhan.Sedangkan tako’ adalah, orang Madura hendaknya selalu merasa diperhatikan atau diawasi gerak-geriknya.Jadi maksud dari pemakaian songko’ adalah, Kapan dan dimanapun kita berada serta dalam kondisi seperti apapun suka atau duka harus tetap takut kepada Tuhan.Takut Kepada Tuhan dalam duka akan menambah kekuatan dalam hidup ini dan penuh harap kepada Tuhan agar ditunjukkan jalan keluar yangterbaik.Takut dalam suka artinya mensyukuri semua karuniaNya dengan cara menggunakan semua nikmat yang diberikan untuk meraih RidhaNya.
Dalam keadaan seperti apapun orang Madura selalu bersongko”, apakah saat bekerja apalagi saat shalat.Hal ini diharapkan  agar orang Madura selalu merasa diawasi segala perbuatannya,apabila seseorang selulu merasa diawasi maka tidak akan ada kecurangan atau kejahatan. Pegawai yang bekerja tidak didasari rasa takut kepada Tuhan hanya akan menjadi beban bagi instansinya,karena ia hanya akan mencari manfaat dari lingkungannya dengan cara apa saja.Berbeda dengan orang  bekerja yang selalu merasa diawasi oleh Tuhan dia akan bekerja semaksimal mungkin untuk memberikan manfaat terbaik terhadap lingkungannya.Terlebih saat mengerjakan shalat bagaimana jadinya jika tidak bersongko’,jangan sampai seseorang  menghadap Tuhannya tanpa didasari rasa takut.Orang Madura yang tidak bersongko’dalam kegiatan sehari-hari akan dianggap “cangkolang” atau kurang sopan.
Simbol-simbol itu merupakan ungkapan dari masyarakat Madura tentang keluhuran budi yang ingin terus dilakukan oleh anak cucu bangsa Madura sampai akhir zaman .Dengan diungkapkannya dalam bentuk symbol atau ungkapan diharapkan tidak mudah tergerus oleh zaman,“Tak lekang oleh panas,tak lapuk oleh hujan”
Pemakaian ungkapan ataupun symbol-simbol tentang keluhuran budi bukan menggambarkan karakter penggunanya,karena tak jarang orang bersarung atau bersongko’ banyak yang melakukan penyimpangan.Namun adanya symbol dan ungkapan tentang keluhuran budi merupakan suatu upaya yang sungguh-sungguh dari para pendahulu untuk melihat bangsa Madura menjadi masyarakat sejahtera lahir batin yang mampu memberikan manfaat serhadap seluruh alam,manfaat sesuai dengan kapasitasnya masing-masing sampai akhir zaman manakala  symbol-simbol dan ungkapan tersebut masih digunakan dalam kehidupan sehari-hari.Selain symbol pakaian, hampir semua aspek kehidupan bermasyarakat Madura tak lepas dari symbol dan ungkapan tentang keluhuran budi  seperti kegiatan keagamaan dan adat istiadat.
Mahatmagandi terkenal dengan swadesinya,Yasser Arafat dengan sorbannya.Kapan Madura disegani karena sarung dan songkoknya yang sarat dengan makna tentang keluhuran budi.

















SIMBOL AGAMA


Tongket

ADAT ISTIADAT
Jajan bakalan
Reng agabay bengko
Oro’ kandung











Di zaman modern seperti sekarang ini orang memakai songkok mulai mulai berkurang terutama di kota-kota dan kaum remaja,songkok hanya dipakai didaerah pinggiran dan pesantren.
Bagi masyarakat Madura yang masih berpegang teguh pada budaya yang menjunjung tinggi nilai-nilai luhur kemanusian,orang yang tidak memakai songkok dianggap cangkolang atau tidak tahu adat,
Pada zaman dahulu
apalagi saat shalat tidak memakai songko’ dianggap tidak sah shalatnya,sungguh suatu yang sangat fanatik.













Kerangka
Latar belakang
Uraian dan contoh tentang filusufi
penutup

3 komentar:

  1. Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

    BalasHapus
  2. siiip bang bro. kalau simbol-simbol berupa gambar gimana? misalnya bentuk belah ketupat yg banyak dijumpai di Madura semisal pada pahatan bagian rumah adat, ranjang kayu, dll tempo dulu? mungkin sampean pernah tau literatur yg mengulas tentang simbol-simbol gambar/bentuk ini secara detail tulung share ke den_anshor@yahoo.co.id yo.

    Matur sakalangkong sebelumnya dan ditunggu balasannya...:)

    BalasHapus